Tadinya aku berpikir jika jodoh itu adalah garis takdir yang bisa diarahkan. Dengan niat dan usaha yang kuat, kita bisa menentukan sendiri dari awal siapa jodoh kita. Tapi baru kali ini aku disadari sesuatu bahkan pikiran yg seperti itu malah menggangguku. Ibarat garis takdir hidup, itu harus ada yang meridhoi. Ketika aku mencoba sibuk untuk orang lain, aku diuji untuk lebih perhatian pada orang terdekatku sendiri. Seperti hubungan sebab-akibat, setiap nasihat orang tua selalu dilatarbelakangi oleh jati diri mereka. Makanya jika nasihat mereka, "jangan bermain lama-lama", bisa jadi ada maksud tertentu kalau mereka sebenarnya ingin lebih diperhatikan.
Dulu ketika ditanya skala prioritas aku memilih skripsi, calon jodoh, menabung, persiapan kerja, berbakti pada orang tua, dan mimpiku untuk bisa berkarya. Jika ada orang yg ingin mengoreksi prioritasku itu, aku selalu berdebat dan berusaha menang atas prioritasku yg sudah tersusun baik, menurutku.
Aku memiliki kakak sepupu perempuan. Kini umurnya sudah mencapai kepala tiga. Sebagai cucu tertua ia sangat perhatian pada kami saudara-saudaranya. Sifat peduli dan pengertiannya sungguh membuatku nyaman. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri.
Masih dengan suasana lebaran, kami sekeluarga mudik ke Probolinggo, rumah paman dari ayah dan kakak sepupuku. Pada suatu malam, aku berjalan ke teras rumah. Aku melihat mbakku duduk di selasar teras. Dia mempersilakanku duduk bersamanya lalu kami sedikit berbincang tentang kabar kami. Saat mulai ada keheningan, dia mulai mencurahkan isi hatinya bagaimana perjuangannya sebagai seorang anak untuk sabar menghadapi penyakit kedua orang tuanya. Aku sangat mengerti dengan perasaan yg dia luapkan itu. Karena kami sedang dilanda masalah yg sama, orang tua kami sedang sangat-sangat butuh perhatian.
Mbak dulu mengira yang orang tua butuhkan dari anaknya yang sudah dewasa itu bisa bekerja mencari uang. Makanya mbak dulu sempat kerja di Blitar.
Malam itu semakin terasa dingin diguyur hujan. Suara kendaraan berlalu lalang mengisi keheningan malam. Mataku menegok mbakku sesekali. Aku baru menyadari dia ikut menangis juga.
"Kamu benar-benar sudah berpikir sejauh itu dek? Kamu lho masih 22 tahun, masih punya banyak waktu untuk bisa berkarir, mengejar mimpimu juga, bisa menciptakan karya sendiri. Ndak usah berpikir cari jodoh itu dulu", cetusnya.
"Tapi mbak, aku ingin karya yang aku ciptakan itu dibangun bersama pasanganku nanti. Yang aku harapkan kami bisa mapan bersama."
"Kamu yakin perempuan yang kamu sukai itu mau hidup sulit dari awal? Menurut mbak, kebanyakan perempuan itu menginginkan laki-lakinya sudah mapan dulu."
"Tapi mbak aku sudah yakin dengannya jika dia mau menungguku dulu."
"Okelah jika seperti itu, mungkin kamu sudah asyik jalan bersamanya. Tapi lihat ayah mamamu dek. Meskipun mereka memberimu izin keluar, rela melepasmu merantau ke Malang, tapi pernah ga suatu ketika mereka tiba-tiba menelponmu untuk hal yang menurutmu tidak penting? Bisa jadi mereka sedang butuh diperhatikan olehmu."
Aku hanya bisa mengangguk tanpa sepatah kata apapun yang bisa kuucapkan. Hanya air mata yang bisa kujawab dari obrolan kami.
Akh, aku benar-benar merasa malu dengan mbakku. Aku merasa masih seperti anak yang belum layak dikatakan dewasa. Akalku selama ini sudah tertutup dari rasa kepedulianku pada orang tuaku sendiri. Aku lebih banyak memikirkan diriku sendiri dari pada mereka. Padahal aku selalu yakin kalau mereka terkadang merasa khawatir jika aku lama tidak mengabari. Perbedaan 13 tahun umur kami meyakinkanku kalau di umurku yang ke 22 ini aku belum bisa menganggap diriku sendiri dewasa. Mataku menjadi lebih terbuka. Melihat kondisi sekitarku.
Di sisi lain, aku turut merasa berempati dengan kondisi mbakku. Dia rela ditinggal menikah oleh laki-laki yang pernah mencintainya hanya karena masih ingin memberikan perhatian pada orang tuanya. Dia merasa belum bisa meninggalkan mereka.
Dipengang pundakku, dia memberi nasihat untukku,
"Jangan cuma kamu menelpon ayah hanya ingin minta kewajiban bulanan aja, tapi coba kamu kasih perhatian lebih padanya ya. Misalnya iseng kamu tanyakan, "sudah makan belum yah?" Atau "obatnya tidak ada yang kurang kan?". Pokoknya kamu sesekali coba beri perhatian padanya. Kondisi kita yang seperti ini akan menguatkan kita kok, kamu bisa akan menjadi mapan dengan sendirinya."
Namun kalimat penutupnya yang membuatku terenyuh,
"Tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak rezeki bisa didapat, atau siapa jodoh kita, atau kapan kita akan dipanggil. Selama kamu selalu berbakti pada orang tuamu dan keluargamu, serta tidak lupa kamu terus beribadah, Allah pasti akan memudahkan urusanmu kok dek."