Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pemahaman Diri

Puncak Mulia

Sebuah gedung perkantoran yang sebenarnya biasa saja. Bahkan tidak lebih mewah dari Kawasan Pusat Bisnis Sudiman maupun Kuningan. Oleh senior-seniorku desainnya diakui bahwa gedung ini dibangun dengan teknologi termaju pada masanya. Memahami makna dari nama gedung ini memiliki arti, "gapailah puncak dari kemuliaanmu". Dibalik kesederhaannya gedung setinggi 20 lantai ini, memiliki kenangan tersendiri untukku. Tempat dimana almarhum ayah mencari nafkah untuk kami selama 20an tahun. Di saat aku beranjak kuliah aku pernah diajaknya kesini. Mengambil dokumen penting miliknya sembari melihat beberapa tumpukan dokumen dan gambar teknik di atas meja kerjanya yang membuatku merasa pekerjaan ayahku adalah pekerjaan termaskulin saat itu. Membayangkan tensi kerja yg duduk dihadapan bosnya sembari mengawasi bawahannya harus aku akui itu bukan hal yang mudah. Tapi 20an tahun bekerja dengan naik turunnya kondisi sangat kuapresiasi kerja keras ayah.  Tidak dipungkiri kenangan man...

Kebohongan Semu dari Kejujuran Nyata.

Jika prinsipku sekarang untuk mengikuti cara hidup seorang ayah dianggap sebagai pengakuan kebohongan terbesar oleh sebagian orang? Sejujurnya jika hal itu dibuang, rasanya aku seperti kehilangan sebagian jati diriku. Aku adalah campuran antara benih ayah dan mama. Tidak bisa dielakkan bahwa aku adalah anak mereka, dan sifat dan karakterku akan turun dari mereka. Aku pun mengambil ilmu teknik juga awalnya karena sosok ayah. Hingga sekarang mindset yang terbentuk padaku adalah root-cause analysis. Sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya, dan terbentuknya sesuatu pasti bisa dicari dasar akarnya. Batasannya itu apa? Batasannya cukup kapasitas kemampuanku dan apa yang telah dibatasi oleh agama. Selama kemampuanku masih memadai dan masih dalam lingkaran agama, akan kucari apa pun yang menjadi objek rasa penasaranku. Namun jika itu sudah di luar batas, aku akan berhenti sebelum mencapai garis batasnya. Aku percaya rezeki setiap orang punya porsi dan di waktu yang sudah diatur dari atas. Kep...

Dari refleksi sikap untuk meluruskan diri.

Sebulan terakhir aku jadi punya banyak pengalaman dengan disibukkan banyak sekali pekerjaan. Bahkan ketika dapat waktu kosong juga aku jadi mengisinya dengan ikut webinar , menonton beberapa film dokumenter, atau video ilmiah di youtube. Mau menghibur diri dengan main pun rasanya sudah melelahkan. Buka sosmed juga cuma sekenanya aja karena selain isinya pamer di story sedang ada di suatu tempat, curhat pendek, retweet yang mewakilkan kondisinya, atau paling yaah isinya sambat aja. Enggak gitu banyak relevansinya aja kelamaan buka sosmed (yang ada malah kepancing main ikut sambat, Lol (^ヮ^). Tapi bukan mayoritas isi linimasaku begitu semua loh yaa). Coba mengajak main kawan-kawan lain jadi sungkan karena pada sibuk masing-masing. Bahkan sehabis kerja langsung aja pulang ga ikut rekan-rekanku entah ke resto/kafe atau ke suatu tempat di tengah kota. Capek aja gitu udah abis kerja betapa melelahkan berada di jalan nyetir sendiri pulang ke rumah butuh berapa jam terus besok shu...

Menikah, Keluarga, dan Kepala Rumah Tangga

Di umur yang akan mencapai seperempat abad, banyak teman-teman sebayaku memutuskan untuk menikah. Awalnya bikin iri memang. Bahkan sudah jadi obrolan untuk mereka yg menekan pacarnya buat segera menikah atau yang jomblo-jomblo ngebet mencari pasangan. Tapi tidak sedikit juga di antaranya masih ragu menikahi pasangannya meski sudah berpacaran. Kalau sudah di tongkrongan pasti topiknya, "kapan lo siap nikah?" atau "jomblo mulu lo, mau gue kenalin cewek ga?" atau "akhirnya match juga gue, tapi bukan tipe gue sih jadi mager mau chat duluan". Memang terdengar klise tapi aku punya caraku sendiri menghadapinya.  Aku bahagia untuk teman-temanku yang telah memantapkan diri untuk menikah. Bagiku itu adalah bentuk kedewasaan darinya untuk berani ke tahap hidup selanjutnya bersama. Tidak hanya siap materi tapi juga siap mental karena aku tahu hidup menopang sebuah keluarga tidaklah mudah.  Pasangan itu bisa yang paling banyak samaan, bisa juga saling ...

Sebuah Kisah Rindu

Rindu(a.): Sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. - KBBI  Ketika membahas isi hati, sejujurnya aku masih merindukan seseorang yang dulu pernah hinggap di kehidupanku. Senyum manisnya, gelagat tawanya, dan suara khasnya masih menyertai di ingatan. Namanya seperti batu perhiasan yang menurutku sangat indah yang memiliki warna gradasi pastel hijau putih agak merah muda dengan latar coklat susu. Menyegarkan, manis, bikin rindu, dan menenangkan hati.  Namun di saat aku mengalami guncangan hidup yang begitu berat dan menjadi tertinggal jauh dari yang sebaya, akhirnya kami memutuskan jalan sendiri-sendiri. Ada perasaan cemas bahwa aku tidak akan lagi bisa menjangkau dirinya. Namun aku menyadari realitaku sendiri kalau kondisiku saat ini akan sulit untuk segera meminangnya. Aku yang tadinya berpikir bisa menikah di umur 25 tahun, sekarang jadi berpikir realistis mungkin aku akan bisa menyanggupi persyaratan umum para calon mertua di saat umur 27 tahun. Agar tidak terjebak d...

Delegasi Pengayuh Pedal

Sejak SD aku dan ayah sering bersepeda setiap pagi akhir pekan. Melewati pematang sawah, melipir ke gang sempit jalan bertanah, menyusuri kebun teh di puncak yg dingin, hingga menyebrangi sungai dengan jembatan bambu yg kalau dilewati tanganku selalu memegang erat setang sepeda. Dulu ayah pernah berkisah, dengan antusias beliau menceritakan dirinya pernah bersepeda menuju kota seberang dan kembali ke rumah. Bersusah payah sejak berangkat pagi mengayuh sepeda ontelnya yg sangat sederhana melewati jalan yg belum tentu beraspal dan kembali pulang saat matahari mulai tenggelam. Aku yg dulu masih berpikir kalau dirinya hanya ingin cerita apa yg menjadi pembeda antara sepeda jamannya dulu dengan sepeda miliknya sekarang. Namun saat itu ketertarikanku kepada sepeda agak berkurang sejak insiden masa SMP yang membuatku harus istirahat dari sekolah hingga seminggunya. Awal cerita beliau mulai aktif hobi bersepeda menurutku sangat berkesan. Kelas 4 SD adalah saat-saat aku paling gemuk...

Bertanya "Mengapa" atau Tidak.

Mungkin hanya karena bukan urusan kita jadinya tidak ingin bertanya. Atau mungkin karena tidak ingin terjebak situasi makanya kita tidak bertanya. Inilah yang disebut pilihan acuh tak acuh. Menjadi apatis itu tidak salah. Menjadi simpatik pun tidak salah juga. Namun setidaknya belajar untuk peduli adalah upaya kita untuk lebih menjadi manusia. Dan belajar untuk diam adalah upaya kita untuk lebih bergantung pada doa.

Penasaran

Seringkali rasa penasaran dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan. Dan memunculkan secara spesifik suatu permasalahan. Adakalanya permasalahan itu bisa memicu dilema, entah karena sumber referensi yang kurang atau terlalu banyak mengambil sumber referensi. Sebelum mencapai fase dilema itu, tentukanlah tujuan dari rasa penasaranmu, batasi permasalahanmu agar tidak merembet jauh, setelah itu pikirkan apa manfaat yang bisa kamu dapatkan dari rasa penasaranmu itu. Terlihat simpel, namun inilah yang menjadi dasar dari salah satu kehidupan yang kamu jalankan.

Perkenalan

Lama ga buka ini blog, sepertinya harus gue oprek lagi. Hai kenalin, gue Riko. Buat awal postingan tahun ini gue mau cerita tentang diri gue sedikit aja. Gue punya habit yg menurut gue tidak seperti orang kebanyakan. Dari hasil pemantauan gue, orang2 tuh sering sibuk di hapenya yaa instagram (asal double-tap unggahan orang tanpa tau fotonya selaras ama caption apa kagak), line (sejak ada line today, entah kenapa gue makin ga suka dgn line), whatsapp, ama youtube (yg entah videonya hasil jiplakan karya orang lain, alias reupload) Yg lagi gue gandrungi sekarang tuh nonton youtube channelnya GameSprout, Vox, Wendouver Productions, SovietWomble, SmarterEveryDay dan hampir semua channelnya Linus (Techquickie, LinusTechTips ). Terus game android yg suka gue mainin cuma spider solitaire ama big Big BiG 2. Tadinya gue suka ngabisin waktu main ML, cuma karena mesti pake duit biar jadi, makin males main gue. Iya sih ada event biar player makin betah. Tapi kalo nguber tiap hari harus main ka...

Renungan Ini Perlu

Tadinya aku berpikir jika jodoh itu adalah garis takdir yang bisa diarahkan. Dengan niat dan usaha yang kuat, kita bisa menentukan sendiri dari awal siapa jodoh kita. Tapi baru kali ini aku disadari sesuatu bahkan pikiran yg seperti itu malah menggangguku. Ibarat garis takdir hidup, itu harus ada yang meridhoi. Ketika aku mencoba sibuk untuk orang lain, aku diuji untuk lebih perhatian pada orang terdekatku sendiri. Seperti hubungan sebab-akibat, setiap nasihat orang tua selalu dilatarbelakangi oleh jati diri mereka. Makanya jika nasihat mereka, "jangan bermain lama-lama", bisa jadi ada maksud tertentu kalau mereka sebenarnya ingin lebih diperhatikan. Dulu ketika ditanya skala prioritas aku memilih skripsi, calon jodoh, menabung, persiapan kerja, berbakti pada orang tua, dan mimpiku untuk bisa berkarya. Jika ada orang yg ingin mengoreksi prioritasku itu, aku selalu berdebat dan berusaha menang atas prioritasku yg sudah tersusun baik, menurutku. Aku memiliki kakak sepupu peremp...