Langsung ke konten utama

Dari refleksi sikap untuk meluruskan diri.

Sebulan terakhir aku jadi punya banyak pengalaman dengan disibukkan banyak sekali pekerjaan. Bahkan ketika dapat waktu kosong juga aku jadi mengisinya dengan ikut webinar, menonton beberapa film dokumenter, atau video ilmiah di youtube. Mau menghibur diri dengan main pun rasanya sudah melelahkan. Buka sosmed juga cuma sekenanya aja karena selain isinya pamer di story sedang ada di suatu tempat, curhat pendek, retweet yang mewakilkan kondisinya, atau paling yaah isinya sambat aja. Enggak gitu banyak relevansinya aja kelamaan buka sosmed (yang ada malah kepancing main ikut sambat, Lol (^ヮ^). Tapi bukan mayoritas isi linimasaku begitu semua loh yaa). Coba mengajak main kawan-kawan lain jadi sungkan karena pada sibuk masing-masing. Bahkan sehabis kerja langsung aja pulang ga ikut rekan-rekanku entah ke resto/kafe atau ke suatu tempat di tengah kota. Capek aja gitu udah abis kerja betapa melelahkan berada di jalan nyetir sendiri pulang ke rumah butuh berapa jam terus besok shubuhnya mesti berangkat lagi karena kalau kesiangan dikit aja udah pasti macet ga ketolong di jalan. IMHO, meningkatkan hubungan antar rekan tidak harus di waktu setelah jam kerja kan. Bisa aja saat waktu istirahat siang atau bertemu saat ada yg sama-sama sedang kosong. Meski dari tempat kerja agak jauh, setiap pagi sebelum jam kerja mulai, aku terbiasa mampir dulu ke Famima membeli americano/latte sambil menikmati wanita-wanita yg lagi road biking di sekitaran Sensi. Sedap di mata aja gitu sex appeal-nya cewek-cewek ini abis olahraga jadi keringetan apalagi setelan bajunya itu loh ga mungkin sepedahan pake baju kedodoran kan... (¬‿¬)✧. (Apa sih ini hush... hush...!!! Wkwk). Alasan sebenarnya aku cuma pengen ngopi aja disana soalnya yg buka pagi cuma Famima doang. Masih kupegang sebuah petuah, "Mata boleh sesekali melirik, tapi hati ga boleh sampai tergoda" (⌐■‿■). 

Disela-sela menggulir linimasa, ada sesuatu yang membuatku tertarik. Aku baru mengenal istilah ini beberapa hari lalu. Setelah istilah 'ghosting' jadi trending di linimasa, ada istilah antitesis dari ghosting ini yaitu 'breadcrumbing'. Mengutip dari situs brides.com, "'Breadcrumbing' is the act of sending out flirtatious, but non-committal social signals (i.e. "breadcrumbs") in order to lure a romantic partner in without expending much effort. In other words, it's leading someone on." Ibaratnya, abis nge-ghosting lama tiba-tiba dia ngajak ngobrol lagi di chat terus ilang lama lagi. Masih dari situs yg sama, kelakuan breadcrumbing ini punya 'red flag' yang kita mesti waspada karena terkesan dia hanya ingin memainkan perhatian kita.

Setelah membaca sebagian artikel di internet soal itu, aku jadi punya opini tersendiri. Banyak di antara kawan-kawan cowok yang akhirnya melakukan hal itu ketika sulit ketemu match baru di dating app atau jadi aktif reply/dm ke kawan cewek lamanya (Kalau di tongkrongan cowok lebih tenar dengan ucapan, "ya dicoba chat aja dulu sapa tau nyantol lagi"). Ada juga yg masih sulit kuterka dari salah satu kawan cewek melakukan itu ke cowok-cowok yg pedekate-in dia dan bilangnya, "ya liat aja dulu siapa di antara mereka yg effort dan sabarnya lebih besar buat gue". Yang aku tangkap, dua istilah ini–ghosting dan breadcrumbing–jadi punya anggapan negatif karena berawal dari kepuasan dangkal memiliki hubungan yang tidak ingin menjaga komunikasi dan komitmen jelas dengan tujuan dirinya menjadi tetap menjadi fokus perhatian kita. 

Kalau boleh sedikit terbuka, aku mungkin juga sudah melakukan hal ini di masa lampau. Aku sendiri merasa sampai sekarang masih punya 'urusan yang belum terselesaikan' dengan hubungan lamaku. Yaah urusan baru aku anggap selesai kalau dia sudah menjalin komitmen dengan orang lain atau akhirnya aku cukup punya modal buat mulai berkomitmen lagi dengannya. Berbicara soal komitmen ini, ada traumatis yang mungkin menghambatku untuk bisa memulai hubungan serius mengingat aku tidak lagi memiliki sosok panutan ayah, aku harus menghidupi diriku dan keluarga kandungku, karirku mesti aku kebut, serta setelah hubungan terakhirku ada tersisa sedikit hati ambyar yang masih terus coba kubangkitkan.

Namun, ada cerita inspirasi dari pasutri muda yang menjadi alasan aku terus ingin menulis di blogku ini. Sebelum mereka menjadi jodoh, mereka saling memberi kabar dan curahan hati mereka dengan menulis di blog karena masing-masing dari mereka memutuskan saling menjaga jarak dan tahu mereka ada di hubungan yang belum tahu arahnya kemana tapi masih saling mengangankan satu sama lain.

Dari sisiku mungkin cerita itu tidak terjadi lagi setelah berkunjung ke tumblr-nya yang sudah tidak ada tulisan barunya (meskipun sebenarnya dari membaca semua tulisan lamanya tidak selalu ditujukan ke aku). Dari percakapan singkat pun terkesan sebatas akrab sebagai teman. Aku sadar bukan hanya menjaga jarak secara fisik, mungkin batinnya pun ingin menjaga jarak denganku. Atau mungkin hanya keinginan batinku aja yang berangan mendengar luapan curahannya lagi atau mendengar kabar terbarunya tetapi tidak tahu cara agar cukup berani untuk memulai percakapannya sekarang. Dibalik itu semua, mungkin daripada mengkhawatirkan diri dianggap sedang ghosting atau breadcrumbing, aku senang dengan caraku untuk mengisi jarak ini dengan memperbaiki diri dan bagaimana aku menyempatkan memberi kabar dengan menulis. 

Jika pada akhirnya usaha yang kukejar tidak selesai tepat pada waktunya, biarkan petuah "jodoh sudah ditentukan masing-masing" menjadi pengobat kekecewaan batin. Namun, ibarat pepatah "sebelum janur kuning terpasang di jalan depan rumahnya", akan menjadi mood-booster buat aku jadi lebih baik. Terkesan pepatah tadi cuma sebatas tujuannya di tahap pernikahan, sedangkan aku bukan orang yang pandai untuk mendekatkan diri ke perempuan. Makanya aku punya long-term purpose buat banyak mencari ilmu dan materi agar setelah tahap itu bisa selalu everlasting.

Rasanya jadi lebih banyak cerita pribadi ya padahal mau bahas soal istilah di atas tapi sadar bukan dari bidang ilmu sosial éh~. Pengen bisa punya waktu banyak buat cross-learning dari orang-orang ilmu sosial, apalagi yang punya ilmu memahami proses mental dan kegiatan jiwa manusia... Hehe~ ( ≧▽≦)

"Aku perlu belajar, aku masih berproses, dan aku bahagia." -jwr

Kamis, 1 April 2021

Komentar