Langsung ke konten utama

Kebohongan Semu dari Kejujuran Nyata.

Jika prinsipku sekarang untuk mengikuti cara hidup seorang ayah dianggap sebagai pengakuan kebohongan terbesar oleh sebagian orang? Sejujurnya jika hal itu dibuang, rasanya aku seperti kehilangan sebagian jati diriku.

Aku adalah campuran antara benih ayah dan mama. Tidak bisa dielakkan bahwa aku adalah anak mereka, dan sifat dan karakterku akan turun dari mereka.

Aku pun mengambil ilmu teknik juga awalnya karena sosok ayah. Hingga sekarang mindset yang terbentuk padaku adalah root-cause analysis. Sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya, dan terbentuknya sesuatu pasti bisa dicari dasar akarnya. Batasannya itu apa? Batasannya cukup kapasitas kemampuanku dan apa yang telah dibatasi oleh agama. Selama kemampuanku masih memadai dan masih dalam lingkaran agama, akan kucari apa pun yang menjadi objek rasa penasaranku. Namun jika itu sudah di luar batas, aku akan berhenti sebelum mencapai garis batasnya.

Aku percaya rezeki setiap orang punya porsi dan di waktu yang sudah diatur dari atas. Kepercayaan itu kupegang agar tidak mudah cemburu, lebih fokus apa yang aku kerjakan, dan intinya agar aku hidup lebih tenang. Serta menyeimbangkannya dengan aku percaya bahwa rezeki itu harus dijemput agar aku bisa lebih bekerja keras dalam hidup.

Api tidak akan menyulut dengan sendirinya jika tidak ada pemicunya. Dan ayah adalah pemicu semangat hidupku. Aku memang sudah tidak memiliki ayah. Namun semasa hidupnya beliaulah perantara bagiku mengenal agama dan dunia-Nya.

Kita tidak hidup untuk masa lalu. Namun dari masa lalu kita bisa hidup sekarang dan melangkah ke depan. Selama aku tidak berhenti, aku akan masih menggunakan prinsip mengikuti cara hidup ayah untuk pemicu kobaran apiku agar mulai melangkah. Sedangkan apa pun yang terjadi di depan itu kupercayakan pada takdir nantinya.




Kita tidak bisa berhenti belajar sampai mati nanti. Karena sejarah pendahulu kita tahu bagaimana bisa menjadi besar, dan belajar dari sejarah kita harus menjadi lebih besar darinya.

Aku memahami ini dianggap sebagai kebohongan karena aku dianggap masih terikat pada kesedihan masa lalu. Sedangkan 2 tahun pasca ayah meninggal telah kupakai untuk mencari tahu bagaimana sejarah dari ayah hidup dan aku hidup bersamanya. Awalnya yang menjadi beban depresiku, kini menjadi materi pembelajaran, motivasi diri, dan kebahagiaanku.

Aku perlu belajar, aku masih berproses, dan aku bahagia. -jwr

Senin, 23 Mei 2022

Komentar