Sejak SD aku dan ayah sering bersepeda setiap pagi akhir pekan. Melewati pematang sawah, melipir ke gang sempit jalan bertanah, menyusuri kebun teh di puncak yg dingin, hingga menyebrangi sungai dengan jembatan bambu yg kalau dilewati tanganku selalu memegang erat setang sepeda. Dulu ayah pernah berkisah, dengan antusias beliau menceritakan dirinya pernah bersepeda menuju kota seberang dan kembali ke rumah. Bersusah payah sejak berangkat pagi mengayuh sepeda ontelnya yg sangat sederhana melewati jalan yg belum tentu beraspal dan kembali pulang saat matahari mulai tenggelam. Aku yg dulu masih berpikir kalau dirinya hanya ingin cerita apa yg menjadi pembeda antara sepeda jamannya dulu dengan sepeda miliknya sekarang. Namun saat itu ketertarikanku kepada sepeda agak berkurang sejak insiden masa SMP yang membuatku harus istirahat dari sekolah hingga seminggunya.
Awal cerita beliau mulai aktif hobi bersepeda menurutku sangat berkesan. Kelas 4 SD adalah saat-saat aku paling gemuknya. Sampai kaos favoritku tidak bisa menutup bayangan perut buncitku. Kaos udah banyak yg ga muat, celana mulai pada 'ngatung' semua, sepatu udah pada kekecilan. Kalo kata orang, pokoknya udah ga nyaman lah gara-gara badan sendiri. Sampai pada malam harinya, ayah memintaku menurunkan barang dari bagasi mobil. Dan sangat irinya aku melihat ayah membeli sepeda baru. Curang sih rasanya hanya ayah yg dapat sedangkan mau ga mau aku pasti cuma dapat sepeda lamanya. Tapi sejak itulah ayah selalu rutin mengajakku setiap pagi akhir pekan bersepeda bersama. Tapi motivasiku agak berbeda, karena kalau kami istirahat mampir ke warung, aku bisa mengambil sampai 5 bungkus Beng-Beng. Hehe niat kurus eh malah makin gemuk. Lambat laun aku merasa diriku semakin membaik semenjak gowes bersama dengan ayah. Kelas 5 SD lemak di badan banyak yang hilang, punggungku yg kata mama tadinya sering membungkuk jadi lebih tegap, bahkan dari sekedar iseng aku sampai bisa memainkan otot pahaku layaknya binaraga yg suka memainkan otot dadanya. Kalau kata temen-temenku dilihatnya sih bikin geli. Hahaha :D. Sejak perubahan itu aku baru menyadari saat dewasa ini setelah membaca sebuah artikel bahwa pada awal masa pubertas anak harus sering diajak berolahraga. Dan syukurnya aku tidak perlu minder dari obesitas hingga masa SMA.
Sampai akhir hayatnya ayah masih rutin merawat sepedanya. Dari sekedar mengecek kondisi ban, hingga bagian lainnya yang tidak luput dari sentuhan tangannya. Melihatnya seperti itu memberi efek pada membangun prinsip bahwa setiap barang yang dimiliki mesti dirawat dengan baik sampai benar-benar tidak bisa digunakan lagi. Mau itu orang lain mesti ganti barang-barangnya tiap 5 tahun sekali atau sampai merasa bosan, dari mataku ayah terlihat tidak pernah bosan dengan barang-barangnya karena beliau selalu merawat dan langsung membetulkan jika ada yang bermasalah. Ini juga yang menurutku jadi prinsip dasar menjadi sederhana dan mampu berhemat.
Kini ketika ayah sudah tiada, semua peninggalannya menjadi tanggung jawabku. Awalnya memang terasa membebani dan butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menerima posisi baruku sekarang. Tapi alhamdulillah dari teman-teman baikku yang terus mendorong, dari sahabat yang selalu mengingatkan dan memberi solusi ketika terjatuh, dan keluargaku yang sangat suportif terhadap jalan hidupku memberikan semangat bahwa aku bisa menjadi diriku sekarang dan penerus ayah yang sangat kubanggakan.
Satu persatu aku kembali mengerjakan apa yang aku tinggalkan. Sampai saat aku menyentuh kembali hobinya, awalnya aku masih agak termangu-mangu dengan alasan apa yang membuat sepeda menjadi salah satu hobi ayah. Namun ketika aku betulkan sepedanya dan kunaiki, aku merasakan seluruh cintanya pada sepeda. Perasaan yang sangat emosional ini mengingatkan aku pada satu hal, bentuk sejati kesenangan milik ayah tertuju pada sepedanya. Kembali aku buka arsip komputer milik ayah, kucari rekaman jejak peta jalur sepeda ayah, telah membuka kembali memori nostalgia yang sangat indah ketika dirinya dan kami bersama mengayuh berbagai jalanan setiap akhir pekan. Satu ekspresi yang kuingat lagi dari wajah ayah adalah kesenangan dan rasa bahagia. Tidak pernah aku merasa sebahagia ini saat merawat sepedanya. Tidak pernah aku merasa sesenang ini saat bersepeda melewati jalan-jalan yang pernah kami lewati bersama. Tidak pernah aku tersenyum selebar ini dari rasa lelah yang aku dapatkan sesampainya di rumah.
Dari hobinya aku sangat belajar sesuatu. Sesulit apapun masalah yang dihadapi, serumit apapun rintangan jalan yang dilewati, selelah apapun hasil perjalanan yang begitu panjang, awali semua dengan perasaan senang dan jagalah perasaan itu sampai waktu siap untuk istirahat. Saat ini perjalananku masih setengah jalan. Kuharap aku mampu menjaga pikiran positif ini hingga waktu tubuhku siap untuk diistirahatkan, seperti almarhum ayah.
Good 👍👍
BalasHapusThanks 😁
Hapus