Langsung ke konten utama

Sebuah Kisah Rindu

Rindu(a.): Sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. - KBBI 



Ketika membahas isi hati, sejujurnya aku masih merindukan seseorang yang dulu pernah hinggap di kehidupanku. Senyum manisnya, gelagat tawanya, dan suara khasnya masih menyertai di ingatan. Namanya seperti batu perhiasan yang menurutku sangat indah yang memiliki warna gradasi pastel hijau putih agak merah muda dengan latar coklat susu. Menyegarkan, manis, bikin rindu, dan menenangkan hati. 

Namun di saat aku mengalami guncangan hidup yang begitu berat dan menjadi tertinggal jauh dari yang sebaya, akhirnya kami memutuskan jalan sendiri-sendiri. Ada perasaan cemas bahwa aku tidak akan lagi bisa menjangkau dirinya. Namun aku menyadari realitaku sendiri kalau kondisiku saat ini akan sulit untuk segera meminangnya. Aku yang tadinya berpikir bisa menikah di umur 25 tahun, sekarang jadi berpikir realistis mungkin aku akan bisa menyanggupi persyaratan umum para calon mertua di saat umur 27 tahun. Agar tidak terjebak dengan kegalauan itu aku menyibukkan diri dengan kegiatan dan tugas yang harus kuselesaikan satu persatu. Dari kegiatan mengembangkan diri sendiri, tugas mengurus rumah, hingga tanggung jawab kesehatan mental dan jasmani keluargaku sendiri. 

Dari kelebihan dan kekuranganku, yang paling terberat adalah di saat aku harus bisa diandalkan ketika keluargaku sedang butuh perhatian. Tidak bisa dianggap sama seperti teman atau orang lain yang mereka punya keputusannya, konsekuensinya dia juga. Keluarga adalah support system utama dari hidup. Menurutku menyamakan visi misi di dalam keluarga lebih sukar dibandingkan di tempat kerja yang sistemnya sudah ada. Semakin intens dekat dengan keluarga semakin memahami apa kurang lebihnya dari keluarga. 

Bersamaan dengan tanggung jawabku sendiri, awal tahun ini aku bekerja sambilan membantu usaha ibuku. Bangun sebelum shubuh membantu di dapur, berangkat pagi mengantar pesanan, dilanjut siang atau malamnya dengan pekerjaanku sendiri. Namun alhamdulillah karena ini jadi usaha keluarga, dari sini semua akhirnya terbangun tanggung jawab dan perannya masing-masing. Dari yang awalnya sulit untuk bekerja sama hingga akhirnya mampu berinisiatif saling membantu. 

Untuk mencari pasangan aku masih tidak percaya diri bisa meyakinkan orang lain untuk mau sehidup denganku dan aku tidak mau memaksakan dirinya denganku. Namun dari eustress ini aku mendapatkan maknanya, mungkin inilah konsekuensi dari keputusan menikah, dan inilah realita hidup berkeluarga. Meski pernikahan itu terlihat indah dan bisa saling mendukung mimpi satu sama lain, suatu saat akan ada keputusan untuk meninggalkan mimpi lama pribadi berganti dengan rencana bersama. Takdir tidak ada yang bisa menerawangnya dengan jelas, tapi bagiku selama tujuannya demi keluarga, usaha akan membawa proses terhadap takdir yang diinginkan. Yang terpenting adalah tegas, komitmen, dan konsisten. Dan sebaik-baiknya kita rencanakan, harus selalu ada keikhlasan hati berserah diri pada-Nya.

Aku tidak menyesal, aku masih berproses, dan aku bahagia. 

Senin, 1 Februari 2021 

-jwr


Komentar